IPB Badge
September 2017
S M T W T F S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Nilai Sepuluh Bagi Tina

Author: Bianca Benning
09 4th, 2010

“Tina, cewek berusia 17 tahun, Ia ramah, dan selalu menebar senyum ceriahnya. Tapi, Tina adalah seorang penderita “cerebral palsy”, sejenis kelainan tubuh, dimana beberapa bagian otot-otot tubuhnya kaku dan lumpuh. Karena kelainan ini pula, ia mengalami kesulitan untuk berbicara. Ia harus menggunakan alat bantu untuk menerobos hiruk-pikunya lorong sekolah.

Orang-orang agak enggan berbicara dengannya, mengapa ? Entahlah, mungkin karena ia kelihatan ‘berbeda’ dan siswa-siswa tidak tahu atau canggung untuk mendekatinya. Tetapi Tina adalah orang yang ramah. Ia tidak pernah bosan berkata “Hai” dengan orang-orang yang ditemuinya di lorong.

Tugas hari ini ialah menghafal puisi yang berjudul “Jangan Putus Asa”. Bobot nilai tugas ini hanya 10, berbeda dengan tugas-tugas lain seperti Quis- yang biasanya aku beri bobot 100 di kurikulum sekolah. Aku jadi ingat sewaktu sekolah dulu, jika ada guru yang memberi tugas dengan bobot nilai 10, pasti aku menganggapnya remeh ..yah karena itu tidak begitu penting, dan tidak berpengaruh banyak pada nilai indeks akhir semesterku.

Hari ini aku – seorang guru di sekolah ini – melihat Tina di kelasku untuk mengikuti tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Aku menemukan ada yang lain pada dia.. ya ! dibalik senyum cerahnya itu ia seperti menyimpan kekhawatiran.. “Tidak usah cemas Tina” Kataku pada diri sendiri, “Bobot nilainya cuma 10.”

Aku mulai melaksanakan tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Satu-per-satu mereka maju ke depan kelas – untuk mengucapkan puisi tanpa teks. Dan dapat kuduga, sebagian besar dari mereka ‘lupa’ atau hanya bisa menghapal sepotong dua potong kata dari puisi tersebut. Yah.. mereka juga tahu bahwa bobot nilai tugas ini hanya sedikit, dan aku tahu, mereka tidak begitu serius mempelajarinya.

Aku mulai bergurau pada mereka, “Jika ada yang masih tidak hapal, Bapak akan langsung suruh kalian push up 10 kali !”. Ya, ini hanya gurauan, dan seisi kelas pun tertawa karena ‘kekesalanku’ ini.

Aku tidak sadar, ternyata yang mendapatkan giliran maju ke depan kelas berikutnya adalah Tina.

Sepatah demi sepatah Tina mulai mengucapkan bait-bait puisi tersebut. Dan belum sampai akhir bait kedua… Ia mulai lupa. Sebelum aku mulai berkata, tiba-tiba Tina melempar alat bantu jalannya dan mulai mengambil posisi push up. Aku terkejut setengah mati, dan spontan berkata, “Tina, aku hanya bercanda !” Tina pun merangkak mengambil alat bantunya, kemudian – dengan bantuanku ia berdiri lagi, meneruskan puisinya.

Dan, Tina berhasil mengucapkan puisi itu secara sempurna ! tidak lupa sama sekali. Dia adalah salah satu diantara 3 muridku yang bisa mengucapkan puisi itu secara sempurna.

Ketika selesai berpuisi, salah satu murid bertanya padanya, “Tina, mengapa engkau bersikeras melakukannya ? Bukankah bobot nilainya cuma 10 ?” Tina memerlukan sedikit waktu sebelum menjawab, “Karena aku ingin seperti kalian, normal !”

Keheningan mulai menyelimuti seluruh kelas. Semua tiba-tiba diam – termasuk aku. Kesunyian ini pecah saat ketika seorang siswa berkata, “Tina, sejujurnya kami juga tidak normal, kami hanya anak-anak biasa, sering sekali berbuat kesalahan.”

“Aku tahu, ” Jawab Tina dengan senyum lebar menghias wajahnya.

Tina memperoleh nilai maksimal saat itu, Sepuluh ! dari bobot nilai yang sebesar 10 juga. Ia juga mendapatkan rasa sayang dan hormat dari teman-teman sekelasnya. Aku tahu betul, baginya, itu jauh lebih berharga dibandingkan nilai yang cuma berbobot sepuluh itu.



Setiap Orang Punya Suatu Kelebihan

Author: Bianca Benning
09 4th, 2010

Ada 4 sekawan gadis di suatu negeri yang jauh. Gadis pertama adalah Anggrek, gadis yang selalu menggunakan banyak perhiasan setiap kali ia keluar dari rumahnya.

Gadis kedua adalah Lily, gadis ini selalu menebar bau harum dimanapun ia berada. Gadis ketiga adalah Teratai, Teratai adalah gadis cantik yang pandai merias diri. Banyak laki-laki yang tepesona pada kecantikkan Teratai. Gadis yang terakhir adalah Mawar. Tidak ada kelebihan yang menonjol pada diri Mawar ini. Dia berasal dari keluarga sederhana dan dia sangat pendiam.

Pada suatu hari negeri itu gempar karena sayembara dari kerajaan. Sayembara itu berisi, pangeran akan menikah dengan gadis manapun yang bisa memikat hatinya.

4 sekawan gadis ini juga ikut membicarakan tentang sayembara itu. Anggrek, Lily, dan Teratai ingin sekali mencoba peruntungannya untuk memikat hati pangeran. Tapi mereka tidak mau ikut jika ada salah satu dari 4 sekawan mereka tidak ikut. Sedangkan Mawar sama sekali tidak tertarik. Mereka berusaha keras membujuk Mawar. Mereka sempat bingung kenapa Mawar tidak mau mengikuti sayembara itu. Mereka pikir semua gadis pasti mau menjadi istri pangeran dan menjadi putri.

Tanpa sepengetahuan ketiga temannya Mawar sebenarnya mengikuti perkembangan tentang sayembara itu. Dan ingin sekali ikut mencoba. Tapi Mawar tidak memiliki keberanian karena menurutnya tidak ada satupun hal yang bisa dia banggakan dihadapan pangeran nanti. Mawar tidak sampai hati memberi tau teman-temannya tentang hal ini, dia takut nantinya dia malah akan ditertawakan.

Sesungguhnya, Mawar dulu sekali pernah bertemu dengan pangeran ketika dia sedang mencuci di sungai. Pada awalnya Mawar tidak tahu ada pangeran di tempat itu. Dia asik saja mencuci sambil bernyanyi sampai ketika dia terpeleset dan hampir tenggelam. Tapi pangeran menolongnya pada waktu yang tepat. Ketika itu juga Mawar tahu dia jatuh cinta pada pangeran. Setelah kejadian itu, sekalipun dia tidak pernah melihat pangeran lagi. Karena itu Mawar mulai berhenti berharap sampai sayembara ini tiba-tiba muncul.

Akhirnya teman-teman Mawar berhenti membujuk Mawar untuk ikut sayembara. Tapi temannya meminta agar Mawar tetap ikut bersama mereka ke istana dan melihat jalannya sayembara. Mawar pun menyetujui itu.

Di hari jalannya sayembara, Anggrek sibuk sekali mematut perhiasan untuk dia pakai ke istana. Lily dan Teratai pun tidak jauh berbeda. Lily sampai mencuri daftar pesanan parfum ayahnya untuk melihat parfum apa yang biasa disukai pangeran. Dan Teratai menghabiskan waktu berjam-jam untuk merias dirinya. Semuanya sibuk, kecuali Mawar. Dia hanya berpakaian sehari-hari dan mengikat rambutnya yang ikal panjang. Penampilannya persis sama seperti saat dia bertemu pangeran di sungai dulu.

Istana penuh sesak hari itu. Banyak sekali yang ingin menyaksikan perempuan mana yang nantinya akan di pilih pangeran. Mawar yang berada di barisan penonton depan harus berjuang agar dia tidak terdorong-dorong oleh penonton lain yang terlalu antusias.

Satu demi satu gadis menunjukkan kelebihannya pada pangeran. Termasuk Anggrek yang gemerlap, Lily yang harum, dan Teratai yang cantik. Dalam hati Mawar yakin salah satu dari temannya akan menjadi pilihan pangeran. Tapi ternyata hingga gadis terakhir menunjukkan kelebihannya, pangeran belum juga memilih. Semua orang tegang saat itu.

Tiba-tiba Mawar memecah ketegangan suasana karena dia terjatuh ke depan. Mawar sendiri bingung kenapa dia terjatuh, karena semua orang diam sekali saat itu.

Semua orang memandangi Mawar, tapi tidak ada yang bergerak untuk membantunya bangun.

Pangeran bangkit dari kursinya dan membangunkan Mawar seraya berkata,

“Kau gadis yang waktu itu.”

Mawar bingung apa maksud pangeran saat itu. Semua orang tercengang mendengar pangeran mengenali Mawar.

“Kau gadis di sungai itu.” Lanjut pangeran.

Mawar akhirnya menjawab,

“Ya tuanku, aku yang kau tolong waktu itu.”

Senyum pangeran mengembang seketika dan berkata,

“Kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu kemana-mana.”

“Aku mencari suara merdumu.”

Semua orang kaget, apalagi Mawar. Dia tidak menyangka pangeran mendengarnya ketika dia bernyanyi di sungai itu. Semua orang diam saja menyaksikan adegan Mawar dan pangeran itu sampai ketika pangeran bicara lagi,

“Gadis Bersuara Merdu, tak pernah ku temukan lagi suara yang lebih indah dari milikmu.”

“Tidak ada suara lain yang bisa memikatku selain milikmu.”

“Menikahlah denganku wahai Gadis Bersuara Merdu.”

Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Ketika itu juga Mawar menerima permintaan pangeran

Ia tak pernah menyangka, ternyata selama ini ia memiliki kelebihan yang tak pernah disadarinya. Kelebihan yang mempertemukannya dengan impiannya.



Kota Bogor

Author: Bianca Benning
07 20th, 2010

Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 21,56 km², dan jumlah penduduknya 834.000 jiwa (2003). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit’n-zôrkh”, bœit’-) yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”. Read the rest of this entry »



Biodata

Author: Bianca Benning
07 20th, 2010

Bianca Benning

2 September 1993

Asrama TPB IPB A3 – 362